News

Dangdut dan Lagu-lagunya yang Berlirik Vulgar

Kezia Maharani / Fri, 16 November 2018

Dangdut is the music of my country”, siapa sih yang nggak tau penggalan lirik tersebut? Musik dangdut yang khas dengan cengkok-cengkok dan nada-nada musik bernuansa melayu, melalui penggalan lirik tersebut diklaim sebagai musik asli nusantara, meskipun mungkin pada kenyataannya musik dangdut bukan berasal atau ditemukan oleh orang Indonesia sendiri secara 100%.

Namun, di tengah banyaknya aliran musik modern yang berkembang saat ini, musik dangdut tidak lantas tersapu arus dan kemudian menghilang. Musik dangdut masih terus turut berkembang dengan aransemen-aransemen baru yang modern, entar dari segi alat musik, munculnya penyanyi-penyanyi baru, maupun dari lirik-lirik lagunya.

Kalau diperhatikan, musik dangdut yang beredar belakangan ini punya lirik yang mengikuti tren, contohnya adalah ‘Om Telolet Om’, ‘Aku Mah Apa Atuh’, ‘Sakitnya Tuh di Sini’, ‘Cabe-cabean’, atau judul lagu lainnya yang mengikuti tren hal-hal yang tengah viral di media sosial.

Emang, lagu dangdut identik dengan ‘kedekatannya’ dengan masyarakat dengan status sosial menengah ke bawah, sehingga penggunaan kosakata sederhana untuk judul dan lirik-lirik lagunya kerap digunakan dengan tujuan agar pendengarnya nggak bingung dengan lirik-lirik yang penuh kiasan dan sulit diartikan.

Meski begitu, hal ini kemudian menjadi disalahgunakan dan disalahartikan oleh penulis lirik lagu dangdut dengan menggunakan kosakata-kosakata yang dirangkai menjadi sebuah kalimat berbau vulgar yang menjurus ke arah mesum dan porno. Tak jarang juga lagu-lagu ini berlirik hal-hal yang mengobjektifikasi wanita.

Nyaman Menyanyikan Lirik Vulgar

Dilansir dari Tribun, pada 2016 lalu ada total 13 lagu yang dilarang diputar di radio dan televise lokal Jawa Barat oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat karena memiliki lirik yang mengandung unsur pornografi dan seksualitas.

Lagu-lagu tersebut di antaranya adalah "Paling Suka 69" (Julia Perez), "Simpanan" (Zilvana), "Wanita Lubang Buaya" (Mirnawati), "Hamil Sama Setan" (Ade Farlan), "Mobil Bergoyang" (Asep Rumpi dan Lia MJ), "Hamil Duluan" (Tuty Wibowo)/

Lalu ada "Apa Aja Boleh" (Della Puspita). "Satu Jam saja" (Zaskia Gotik)," Mucikari Cinta" (Rimba Mustika), Melanggar Hukum (Moza Kirana), Cowok Oplosan (Geby Go), "Ga Zaman Punya Pacar Satu" (Lolita), dan "Merem Merem Melek" (Ellicya).

Dari judulnya saja, lagu-lagu ini sudah bisa diperkirakan memiliki lirik yang sama ‘porno’-nya. Lantas, mengapa para penyanyi dangdut, yang memang kebanyakan adalah perempuan, dengan nyamannya menyanyikan lagu-lagu ini? Selain itu, mengapa juga para pendengarnya tidak risih ketika mendengar lagu-lagu dengan lirik yang seperti ini?

Alasan utama para penyanyi dangdut ini menyanyikan lagu-lagu berlirik vulgar tentu saja profesionalitas yang menuntut mereka menyanyikan lagu-lagu tersebut, apalagi jika memang lagu tersebut adalah lagu mereka sendiri.

Di sisi lain, biduan yang memang berprofesi menyanyikan lagu-lagu dangdut, secara profesional juga harus menjalankan tuntutan menyanyikan lagu-lagu berlirik vulgar apalagi jika lagu-lagu tersebut tengah ngetren dan dinyanyikan banyak orang. Ibaratnya, nggak mungkin dong sebuah acara nggak memutar lagu yang lagi hits? Apalagi kalau pengunjung dan peminatnya banyak.

Dalam acara-acara dangdutan sendiri, dapat diamati bahwa pengunjung dan orang-orang yang turut berjoget di depan panggung kebanyakan adalah pria dan bapak-bapak. Lagu-lagu berlirik vulgar lebih banyak menonjolkan objektifikasi wanita yang diposisikan berada di bawah sistem seksual bersifat patriarkal, sehingga tentu saja para bapak-bapak ini dengan nyamannya menyanyikan lirik lagu-lagu tersebut tanpa merasa risih. Jelas saja, wong mereka nggak ‘dipermalukan’ dalam lirik-lirik lagu ini.

Dengan banyaknya ‘peminat’ akan lagu-lagu dangdut dalam jenis ini, industri musik dangdut juga kemudian melihat peluang pasar untuk penjualan lagu dangdut berlirik vulgar. Sehingga kemudian siklus supply-demand ini menjadi sebuah lingkaran setan yang sulit untuk diputus, kecuali kemudian jika negara memutuskan untuk menindaklanjuti perihal lagu berlirik vulgar ini secara hukum/legal.

Dampak Buruk                                        

Bicara mengenai dampak, tentu saja lagu berlirik vulgar akan menimbulkan dampak buruk, bukan hanya lagu dangdut, tetapi juga semua lagu pada genre apapun. Salah satu dampak buruk yang utama adalah apabila lagu ini terdengar oleh anak-anak, karena kemudian anak-anak dapat dengan mudah meniru dan mengimitasi hal-hal yang dilakukan oleh orang tua, termasuk menyanyikan lagu-lagu dengan lirik porno.

Apalagi, kebanyakan acara-acara dangdut digelar pada acara pernikahan atau acara yang dapat dihadiri tanpa pungutan biaya apapun, yang berarti orang tua dapat membawa anak-anak dalam acara tersebut. Selain untuk mendapatkan hiburan pribadi, orang tua membawa anak-anak pada acara tersebut untuk menyenangkan anak-anak. Namun, jika yang disajikan pada acara tersebut adalah lagu-lagu berlirik vulgar, maka dampak buruk yang berpotensi ditimbulkan akan sangat disayangkan.

Meskipun bukan masalah besar, lagu-lagu berlirik vulgar tetaplah sebuah masalah yang mungkin membuat resah beberapa bagian masyarakat. Namun, karena telah berlangsung terlalu lama dan telah menjadi sebuah budaya, hal ini sulit untuk diputus dan diperbaiki. Selama masih ada demand, supply akan lagu berlirik vulgar masih akan tetap diproduksi walaupun di kemudian hari.

Related Article