News

Dimas Sufi Melawan penindasan dunia maya lewat “Intimidasi Dunia Maya”

Surya Yudhis / Tue, 21 August 2018

Keterbukaan dan kebebasan di dunia maya tidak selalu berujung baik. Beberapa orang menyalahgunakannya untuk menjatuhkan orang lain melalui bullying, body shaming, hingga penindasan secara seksual. Dimas Sufi merasa resah dengan hal tersebut. Dengan lagu “Intimidasi Dunia Maya” ia mencoba melawan kekerasan tersebut.

Dimas Sufi - Intimidasi Dunia Maya

Sudah dua tahun sejak Dimas Sufi mengeluarkan albumnya yang bertajuk Merah, kini penyanyi muda asal Tangerang ini kembali mengeluarkan singleterbarunya berjudul “Intimidasi Dunia Maya”. Melalui lagu tersebut, ia berusaha menyuarakan luapan emosi dan bentuk perlawanan para korban bullying kerap yang terjadi di dunia maya.

Awalnya, Dimas Sufi mengaku terinspirasi dari sebuah tayangan infotainment tentang kasus Prilly Latuconsina yang jatuh sakit karena ingin kurus akibat body shaming oleh warganet. “Sekarang dunia maya jadi dunia tanpa batas. Semua orang bisa secara gamblang menyampaikan pendapatnya dengan bebas dan luas. Intimidasi dunia maya itu terjadi saat orang nggak bertanggungjawab dengan kebebasan berpendapat itu,” papar Dimas Sufi tentang lagunya. “Sangat wajar kalau korban merasa tertekan, depresi, bahkan sampai menyebabkan kematian. Makanya, lagu ini adalah luapan protes dan bentuk perlawanan para korban.”

Dimas Sufi tidak hanya menuangkan kegelisahannya ke dalam bentuk lagu, tetapi ia juga mengubahnya ke dalam bentuk visual, yaitu dalam format video klip untuk singlenya tersebut. Ia sendiri bertindak sebagai sutradara, dibantu oleh Dudi Andrian sebagai director of photography. “Saya mencoba menggambarkan proses luapan perasaan para korban intimidasi. Diawali dengan kondisi mereka yang nyaman dan tenang, lalu mulai frustasi, stress, depresi, sampai akhirnya merasa cuek bahwa dunia maya ini adalah milik kami,” ujarnya.

Masih banyak dipengaruhi oleh Eddie Vedder (Pearl Jam) dan Chris Cornell (Soundgarden), ia mencoba mencoba mengaransemen lagunya dengan sedikit pengaruh dari grup musik Foo Fighters. Ia dibantu oleh Fadly Sampulawa yang bertindak sebagai music director pada proses pengerjaan lagu.

Penyanyi muda kelahiran Tangerang tahun 1988 ini sebelumnya dikenal melalui album bertajuk Merah yang rilis pada tahun 2016. Berlatarbelakang sekolah sound design di Universitas Pelita Harapan, karir musiknya terus melaju hingga karyanya yang berjudul “Kopi” sempat mendapatkan dukungan dari organisasi non-pemerintah WWF Indonesia sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam.

Single “Intimidasi Dunia Maya” kini sudah bisa dinikmati di layanan streaming, seperti Apple Music, iTunes, dan Spotify. Selain itu, video musiknya juga dapat disaksikan melalui kanal YouTube atau melalui bit.ly/IntimidasiDuniaMaya.

Related Article