News

Gimana Caranya Iga Massardi Bisa Menulis Lirik Puitis Di Lagunya Barasuara??

Michelle Budiman / Wed, 09 October 2019

Frontman-nya Barasuara, Iga Massardi bergabung dengan kita di AGE OF PRIDEA FEST 2019 pada tanggal 5 Oktober kemarin. Acara tersebut diselenggarakan di Jakarta Convention Center. Banyak banget orang-orang berdampak atau impactful yang ikut dalam acara tersebut untuk berbagi pengalaman dan informasi penting bagi masyarakat tentang hal-hal seputar bisnis, dunia entertainment, dan lain-lain.

Disana, Iga diwawancara oleh Duo Budjang yang sekaligus band Dead Bachelors-nya Narendra Pawaka dan Mario Pratama. Wawancara tersebut membahas seputar bagaimana Iga meng-handle enam kepala dalam band tersebut. Namun, hal yang paling menarik adalah waktu dia membahas tentang ‘menyatukan semua ego’. Mario sempet menanyakan bagaimana caranya Iga me-manage dan menyatukan pemikiran orang-orang Barasuara yang semuanya jago sekaligus terkenal dari lama, not to mention punya warnanya masing-masing.

Ego jangan dihilangin atau diredam, tapi dipelihara.

Lalu, Iga juga menjelaskan tentang bagaimana caranya menanggapi sebuah ide dalam bermusik. Orang-orang harus berani menyuarakan ide seni mereka.

Musuh utama dalam menyuarakan ide bukan respon teman-teman, tapi bagaimana boundaries kita pribadi yang membuat tembok dalam diri kita. Di Barasuara, harus coba dulu. Kalo jelek atau aneh, ya nggak usah dipake, yang penting dicoba. Nggak ada represi ide atau represi ideologi. Sedap.

Memang sedap kata-kata Iga! Banyak orang yang ingin berkarier dalam musik, bahkan di industri lain pun masih takut atau nggak pede untuk menyuarakan ide-ide karena takut salah, jelek, nggak bagus, dan lain-lain. Gue pribadi juga mengalami hal kayak gitu. Gila, gue udah nulis berapa puluh novel sejak SD, tapi nggak ada satu pun yang gue publish karena “takut”. Ya, dari wawancara Iga ini, gue belajar banyak sih. Untung gue ikut!

Selain itu, dibahas juga tentang bagaimana caranya Iga bisa menulis kata-kata yang sangat puitis di lagu-lagu Barasuara. Dia pun menjawab dengan mudah, “Sajak-sajak bokap banyak yang ditempel di tembok, jadi mau gamau gue baca semua sajak-sajaknya dari kecil. Jadi kalo pada ngomong Bahasa gue sastra banget, menurut gue itu biasa, karena gue udah biasa dengan Bahasa seperti itu. Kosakata sastrawi bukan lagi hal yang asing.

Waktu wawancara sudah selesai, para penonton diberi kesempatan untuk Q&A bersama Iga. Dengan semangat, Andri Respati Wicaksono mengangkat tangannya dan menanyakan bagaimana Iga memilih musisi-musisi dalam kacamata seorang produser.

Pertimbangan untuk memproduseri artis-artis, paling penting orangnya nyambung sama gue atau nggak; cara berkomunikasinya. Harus satu frekuensi. Musiknya juga pasti. Harus pake hati. Dan ada grit. Visinya jelas. Kalau soal duit, memproduksi musik itu mahal, tapi ga mustahil untuk dilakukan. Kalau artisnya bagus namun budget terbatas, bisa di adjust lah ya.

Kesimpulan dari acara IDEA FEST kemarin – very knowledgeable. Gue belajar banyak disitu. Gue udah dipaksa nyokap gue terus untuk dateng, tapi gue nggak pernah tahu apa faedahnya. Sekarang gue udah ikut, kemungkinan besar gue akan ikut lagi sih.

Related Article