News

Lampiaskan Kesedihan Lo Dengan Cara Ini!

Michelle Budiman / Sat, 14 December 2019

He says he’s so in love, he’s finally got it right.

Why do I keep running from the truth? All I ever think about is you.

I’m so done with wishing you were still here.

Do you catch a breath when I look at you?

Is it easier to stay? Is it easier to go? I don’t want to know.

 

Banyak lirik lagu zaman 2000an awal yang membuat kita galau banget. Kita jadi ingat kembali sama kesedihan yang selama ini kita coba untuk hilangin. Hebat ya lagu-lagu ini kayak bisa membaca pikiran kita dan mengungkapkan yang selama ini kita coba untuk buang jauh-jauh. Gue jadi mikir, gimana ya caranya membuat kata-kata dalam sebuah lagu seperti ini?

Nggak harus lagu sih...apa aja deh! Bisa dalam bentuk puisi juga, pokoknya menulis, karena memang menulis salah satu langkah baik untuk breakthrough. Jujur, gue beberapa bulan ini (hampir setahun lah ya) galau banget, tapi gue bingung cara melampiaskannya gimana. Gue jadi mencari hal-hal yang nggak baik untuk kesehatan gue, contohnya: nggak tidur, minum mulu, nongkrong sama orang-orang yang sangat dekat sama si doi, dan lain-lain. Gue nggak melakukan apa-apa untuk move on. Gue berpikir bagaimana caranya untuk keluar dari hal tersebut. Salah satu hal yang kepikiran adalah membuat lagu atau puisi. Mungkin lo juga bisa mengikuti metode ini, daripada keliaran kemana-mana kayak gue selama ini, dan nggak menyelesaikan masalahnya.

Hal terbaik yang lo bisa lakukan untuk meredam kesedihan atau kebingungan lo adalah untuk menulisnya. Gue tahu emang rada malas untuk melakukan hal tersebut, tapi coba aja dulu. Nggak harus nulis jurnal, kayak diary gitu. Lo bisa tulis lagu atau puisi, atau bahkan cerita pendek yang mendeskripsikan keadaan lo sekarang ini, biar lo lebih lega.

Melepaskan hal-hal rumit kayak gini memang, ya, rumit. Tapi kita harus coba segala hal (yang positif) untuk melampiaskan. Lo bisa memulai menulis. Start from your heart. Tulis aja hal pertama yang ada di otak lo. Jangan nunggu sebuah ‘inspirasi’ untuk muncul. Tulisan lo akan lebih worth the read kalau lo memulai dengan hati terluka, if you’re being vulnerable and feeling blue anjay. Kalau bisa, lo tulis di buku aja, jangan diketik. Nggak tahu ya, ini tergantung preference orang juga sih, tapi lo akan lebih merasakan kesakitan lo kalau lo menulis dengan pulpen atau pensil dan selembar kertas. Terus, jangan lupa kopinya. Hehe.

Gue sadar anak-anak zaman sekarang seperti lo dan gue punya banyak hal yang dipikirin, banyak kepahitan yang dialami, dan kita bukannya mencoba untuk repair, tapi kita malah damage ourselves. Kesembuhan dimulai dengan diri lo sendiri, jadi coba ambil waktu untuk self-healing dan menulis.

Related Article