News

Music Video Berformat Vertikal, Yay or Nay?

Kezia Maharani / Mon, 08 October 2018

Di zaman serba canggih sekarang ini, siapa sih yang nggak punya handphone? Bahkan, bukan cuma sekedar handphone biasa, di era ini sekarang orang-orang mayoritas sudah memiliki handphone pintar, atau yang kita kenal dengan istilah smartphone.

Seiringan dengan berkembangnya zaman dan teknologi, seluruh aspek kehidupan manusia juga turut ikut berkembang agar tidak tertinggal. Salah satu industri yang nggak mau, bahkan nggak boleh ketinggalan dalam hal kejar-mengejar dengan teknologi adalah industri seni dan musik.

Di industri musik sendiri, banyak hal-hal yang dikembangkan mulai dari alat musik yang digunakan makin beragam, software untuk mengedit suara, genre lagu, hingga jenis video musik yang disesuaikan dengan hal-hal yang lebih modern sekarang ini.

Salah satu inovasi industri musik, khususnya dalam hal video musik, adalah bentuk video yang tidak lagi horizontal melainkan vertikal. Emang nggak bisa dipungkiri, akses orang terhadap smartphone akan lebih mudah dibandingkan dengan akses terhadap komputer atau laptop.

Selama ini, video klip horizontal yang dirilis memang bisa langsung ditonton, tetapi pengguna smartphone harus memiringkan gawai mereka tersebut agar pengalaman menonton mereka jadi lebih optimal. Dengan inovasi rilisnya video klip dalam format horizontal, setidaknya ada beberapa hal yang dianggap pro dan kontra oleh Mousaik yang akan dibahas kali ini.

Keterbatasan Sudut Pandang

Satu hal yang paling menonjol dari video klip berformat vertikal adalah, bahwa tidak semua hal dapat ditampilkan secara optimal dalam format ini. Seandainya sang musisi/penyanyi ingin menampilkan keindahan alam, pemandangan, atau menonjolkan ambience dan kondisi dalam sebuah ruangan, hal itu tidak akan dapat tersampaikan secara penuh karena sudut pandang yang terbatas. Sangat mungkin bahwa pesan dan perasaan yang dimaksudkan tersampai melalui visualisasi dalam video tidak tersampaikan secara maksimal kepada para penontonnya. Selain itu, format video ini belum familiar oleh para penikmat musik sehingga mungkin akan sedikit asing bagi para penontonnya, meskipun tidak serta merta akan langsung ditolak oleh mereka.

Hal lainnya adalah, apabila video yang umumnya diunggah di platform berbagi video gratis YouTube ini tidak diatur dengan baik, penonton tidak akan bisa menontonnya dalam format vertikal seperti yang seharusnya. Hal ini dialami penonton ketika menonton video musik dalam format vertikal untuk lagu ‘Havana’ dari Camila Cabello dan ‘Wait’ dari Maroon 5. Entah apa yang salah dalam pengaturan pengunggahan video mereka tersebut, penonton tidak dapat menonton video ini dalam keadaan layar ‘berdiri’ dengan fitur fullscreen.

Lain halnya dengan video berformat vertikal milik Sheryl Sheinafia, Rizky Febian, dan Chandra Liow, pengaturan video vertikal untuk ‘Sweet Talk’ diatur dengan baik dan sesuai, sehingga penonton bisa mengakses dan melihat video dengan layar ‘berdiri’ dalam fitur fullscreen.

Dekat dengan Penonton

Meski dengan keterbatasan sudut pandang, video berformat vertikal memang tampaknya akan lebih cocok menampilkan visualisasi hal-hal yang dekat dengan media sosial, sehingga pengguna memang akan lebih familiar dan merasa lebih ‘dekat’ dengan video tersebut, seperti yang ada dalam video ‘Sweet Talk’.

Kelebihan lainnya, video dalam format ini akan lebih mudah dibagikan dan ‘diterima’ di media sosial karena penontonnya tidak perlu repot memutar smartphone mereka, atau mematikan tombol rotate lock dan kemudian baru memutar smartphone-nya.

Vertical Video Rama DavisVertical Video Rama Davis - Teman

Istilah sederhananya, video berformat vertikal akan lebih watcher-friendly dibandingkan dengan video berformat horizontal. Selain itu, format video ini terlihat baru dan menarik, sehingga penonton akan lebih tertarik dan antusias untuk menonton video dalam format ini.

Beberapa musisi pun sudah mulai mengeksplorasi karyanya dengan vertical video. Selain ada video klip "Sweet Talk", ada juga video klip "I Don't Mind" dari Vidi, Sheryl, dan Jevin Julian. Lalu ada juga Rama Davis yang merilis lirik video untuk single perdananya menggunakan format vertical video dan juga Project Pop yang baru saja merilis "Coconut". Contoh-contoh vertical video yang telah di gunakan oleh para musisi lainnya bisa kamu cek disini.

Lalu, sejauh ini memang efek atau fitur-fitur dalam media sosial adalah satu-satunya visualisasi yang dapat dibilang menarik untuk format video vertikal. Ke depannya belum dapat diprediksi akan ada ide-ide visualisasi video vertikal yang akan muncul.

Paling tidak, begitulah pro dan kontra ide video vertikal menurut Mousaik, gimana menurut kamu sendiri sebagai penonton? Tulis di kolom komentar ya!

 

Related Article