News

Onomastika Mengucapkan Pamit Dengan Membuat Konser Perpisahannya

Surya Yudhis / Sun, 24 March 2019

Setelah berkarya bertahun lamanya di kota Gresik, grup musik Onomastika mengucapkan kata pamit. Dengan menggelar sebuah konser tunggal bertajuk “Onomastika Pamit”, band ini tegas menyatakan diri mereka benar-benar mundur dari gemerlap panggung.

“Padahal idealnya sebuah band tidak harus menunggu sebuah panggung untuk memperkenalkan albumnya, melainkan harus berinisiatif menciptakan panggung itu,” ungkap Irfan Akbar, Manajer Grup Musik Onomastika.

Hal ini lantas mendorong Yayasan Gang Sebelah, selaku yayasan nonprofit berskala nasional yang menaungi Grup Musik Onomastika untuk menginisiasi sebuah konser tunggal bertajuk “Onomastika Pamit" pada Sabtu, 23 Maret di Gedung Nasional Indonesia, Surabaya.

"Onomastika Pamit" sendiri bermaksud bahwa Onomastika ingin pamit kepada masyarakat Gresik khususnya dan pendengar mereka di seluruh Indonesia. “Dalam Kamus Beşar Bahasa Indonesia, kata pamit adalah permisi akan pergi (berangkat, pulang). Rencana tour ke luar kota atau pergi membuat album baru adalah gagasan ‘Pamit’ itu sendiri.

Nantinya konser ini akan direkam secara langsung dan akan dirilis dalam bentuk “Album Live: Onomastika Pamit”. Konser ini juga akan mengangkat konsep situasi pesisir Kota Gresik, karena lagu-lagu yang dibawakan oleh Onomastika merupakan hasil alih wahana dari puisi. Karya almarhum Lenon Machali, seorang sastrawan besar asal Gresik.

Agar publik dan pendengar Onomastika dapat mendukung mereka untuk terakhir kalinya, grup ini bekerjasama dengan Kolase.com dalam mewujudkan Konser “Onomastika Pamit”

Dalam konser terakhirnya ini, panitia berharap konser tunggal sebuah band di Gresik akan menjadi tradisi. Tidak hanya Onomastika, berlaku juga untuk band-band yang lain.

“Untuk mendukung langkah tersebut, konser ini nantinya tidak hanya tentang penampil dan penonton, namun akan berupaya membentuk ekosistem musik yang sehat dengan cara mengadakan Record Store Day, mengkampanyekan karya musik sebagai aset kota, merangkul kolaborator untuk tampil, mengembangkan literasi musik, mengumpulkan jaringan dan pelaku semestanya,” tegas Shandy Anata, Ketua Yayasan Gang Sebelah.

Onomastika sendiri tahun lalu sempat merilis sebuah mini album “Hujan Pertama” yang berisi lagu-lagu seperti; Hujan Pertama, Sendiri, Hening, Kepada yang Lalu, Jam Tenang, dan Perahu Sampanmu. Materi mini album ini telah dirilis pada pada tanggal 28 Oktober 2018. Setelah melewati beberapa panggung, mini album Onomastika juga dirilis untuk digital music store seperti Spotify, iTunes, Joox, Deezer, Amazon dsb.

Sementara dalam “Onomastika Pamit”, Onomastika akan tampil membawakan total 10 lagu yang nantinya akan dimasukkan dalam “Album Live: Onomastika Pamit”. Enam lagu yang sudah ada dari album “Hujan Pertama”, dan sisanya dari lagu baru yang juga dari proses alih wahana puisi ke musik, di antaranya; Lelaki Di Dermaga, Pasar Loak, Hujan Keringat Tawar, dan Musim.

Tentang Onomastika

Onomastika adalah sebuah grup musik asal Gresik yang sepakat dibentuk pada 29 September 2018.
Ada enam karya yang telah direkam dan dihimpun dalam mini album bertajuk Hujan Pertama, hasil
alih wahana puisi ke musik.  Puisi dipilih sebagai bahan dasar penciptaan lagu karena kelebihannya
merangkum hal-hal yang tidak mampu dinarasikan dengan baik. Metafora bukan faktor utama
menurut Onomastika. Namun pengendapan pikiran yang berupa puisi nampaknya sudah berbunyi

sebelum dinyanyikan. Itu yang kemudian mereka temukan pada empat karya milik Sastrawan Gresik,
Bapak Lenon Machali (alm) dan dua karya milik Hening Kusuma. Ditambahkan oleh Ayuning Tyas,
salah satu vokalis Onomastika, dirinya berharap lewat musikalisasi puisi para pendengar mampu
mengalami cerita dan rasa yang disembunyikan oleh kata-kata di dalam puisi.

Related Article