News

Pro-kontra Lipsync: Pembohongan atau Antisipasi?

Surya Yudhis / Mon, 10 September 2018

Asian Games 2018 yang berlangsung sejak minggu lalu dibuka dengan opening ceremony yang megah sampai menarik perhatian banyak orang, bahkan masyarakat mancanegara. Salah satu yang jadi perhatian orang, baik di luar internet maupun di dalam internet, adalah Via Vallen yang menyanyikan official song Asian Games 2018 berjudul ‘Meraih Bintang’.

Salah satu hal yang jadi perhatian netizen selama Via Vallen  dan beberapa penyanyi yang tampil, mereka membawakannya dengan teknik lipsync. Netizen di seluruh jagat media sosial kemudian membahas soal ini, dan beberapa dari mereka mempermasalahkan Via yang bernyanyi secara lipsync, bahkan beberapa media online juga memberitakan soal ini di portal berita mereka. Sebenarnya, apa sih pro dan kontranya bernyanyi secara lipsync, khususnya dalam hal event besar kayak pembukaan Asian Games?

source image:@fachri.ar_24

Mari kita mulai dari poin-poin kontra yang membentuk pola pikir masyarakat soal teknik bernyanyi lipsync ini.

Orang yang melihat penyanyi bernyanyi hanya dengan menggerakkan bibirnya, dengan suara dari lagu yang diputarkan di background, pasti akan berpikir bahwa suara sang penyanyi sebenarnya tidak sebagus itu, atau emang suaranya tidak bagus sama sekali.

Masyarakat pasti berpikir bahwa suara yang keluar dari lagu adalah suara yang telah diedit dan ditambahkan beberapa efek agar terdengar lebih halus, dan bukannya suara murni dari sang penyanyi tersebut.

Apalagi kalau kemudian penyanyi tersebut menyanyikan lagu itu dengan teknik lipsync, bisa dipastikan netizen atau penontonnya langsung nyinyir dan mempermasalahkan hal tersebut, terbukti dari penampilan Via Vallen pada saat menyanyikan lagu ‘Meraih Bintang’ di pembukaan Asian Games kemarin.

Pada dasarnya, manusia emang nggak suka dibohongi, dan teknik lipsync emang terlihat kayak tindakan membohongi penonton dengan menyanyi tanpa mengeluarkan suara dan cuma menggerakkan serta menyamakan gerak bibir dengan alunan lagu yang diputar di belakang. Untuk alasan ini, bisa dimengerti mengapa orang kebanyakan nyinyir pas melihat Via Vallen, ataupun penyanyi lainnya, lipsync saat menyanyi.

Tapi, dari sisi pro-nya, lipsync sendiri mengurangi resiko-resiko terjadinya kesalahan teknis yang umumnya terjadi seperti mic mati, atau memang karena resikonya terlalu tinggi maka tidak di mungkinkan penyanyi tampil secara live.

Apalagi di ajang besar kayak pembukaan Asian Games kemarin, kalau kata mas Wishnutama sebagai  creative director Opening Ceremony Asian Games 2018, menyebutkan jika penyanyi membawakan secara live pada waktu itu, resiko yang terjadi itu terlalu tinggi.

karena pada saat berlangsungnya acara, semua performer dari penari, crew, penyanyi dan lain sebagainya menggunakan earpiece wireless. total sekitar 7000 earpiece yang digunakan.

Belum lagi wireless atau HT yang jumlahnya ribuan, yang dipakai oleh panitia, pengamanan, dan pas pampres. Jika dipaksakan tampil secara live, resiko teknis yang khususnya terkait frekuensi sinyal takut akan terganggu.

Bisa dimaklumi kenapa panitia dan penyelenggara acara memutuskan untuk membuat semua performernya menyanyi dengan lipsync, terkecuali lagu Indonesia Raya yang dibawakan oleh Tulus.

Panitia nggak bisa meresikokan rusaknya acara atau turunnya mood akibat kesalahan-kesalahan yang udah disebutin sebelumnya. Memang ada kemungkinan musik dan mesin pemutar musik itu, bersama dengan mic-nya, mati secara bersamaan. Namun, antisipasi resiko dengan keputusan penggunaan teknik lipsync adalah langkah yang dikatakan sangat tepat dalam hal pembukaan Asian Games 2018 kemarin.

Untuk setiap hal, pasti ada sisi pro dan kontranya, termasuk dalam hal lipsync yang banyak dikonsepsikan negatif oleh para pendengarnya. Tapi emang, nggak selalu baik kalau penyanyi bernanyi dengan teknik ini setiap saat, penonton pasti bakal merasa terbohongi dan jadi meragukan kemampuan sang penyanyi ini sendiri. Pahami skala acaranya, resiko, dan sisi lain dari keputusan penyanyi untuk melakukan lipsync, biar kita nggak jadi terlalu banyak nyinyir!

Related Article